Kehancuran yang Menguatkan

Jika selama ini masalah yang terjadi dalam rumah tangga atau ketidak harmonisan keluarga senantiasa dianggap sebagai sebuah bencana dan sumber kegagalan dalam kehidupan seorang anak, lantas bagaimana dengan mereka yang tetap dapat berprestasi dan sukses dalam meraih mimpi-mimpinya sedangkan mereka berasal dari keluarga yang dapat dikatakan hancur, atau broken home ?

Setiap keluargs tentulah mendambakan sebuah bahtera kehidupan yang senantiasa berlimpah kasih sayang dan kesejahteraan. Namun tak dapat dipungkiri, untuk menyatukan dua kepala yaitu suami istri yang kemudian berperan sebagai ayah dan ibu untuk anak-anaknya bukanlah perkara yang mudah. Perbedaan karakter, tabiat, pola pikir dan sikap tentulah akan sering memicu pertentangan. Belum lagi permasalahan yang kian hari kian bertambah dan datang silih berganti, tentu akan semakin menambah tekanan yang ada.

Sedikit menganalogikan, bahwa kehidupan rumah tangga atau kehidupan berkeluarga ibarat sebuah lautan yang teramat luas dan dalam. Sedangkan ikatan keluarga sendiri merupakan sebuah bahtera yang berlayar di tengah-tengahnya dan anggota keluarga merupakan pelautnya. Sebagaimana perjalanan berlayar sebuah kapal, ketika perjalanan baru dimulai semua yang terbentang dihadapan hanyalah pemandangan yang memukau, langit yang biru dengan awan-awan yang indah, burung-burung beterbangan dan ikan-ikan yang meloncat-loncat dipermukaan air, kilauan air laut bak berlian dan angin semilir yang membuai dengan lembut. Namun ketika perjalanan terus berlanjut dan semakin ke tengah maka ada kalanya hujan badai datang, gelombang tinggi menghantam, sambaran petir dan dasyatnya ombak siap menerkam.

Kekokohan bahtera dan kecerdasan serta keterampilan para pelautnya dalam menghadapi kondisi tersebut mungkin saja dapat menyelamatkan mereka semua. Namun besar pula kemungkinan kapal tersebut akan pecah, kandas dan menenggelamkan seluruh pelaut yang ada di dalamnya. Ketika hal tersebut terjadi, belum tentu hal tersebut adalah akhir dari segalanya. Sangat mudah bagi      Allah SWT untuk memberikan keselamatan bagi makhluknya. Bisa saja Allah SWT memberikan kekuatan pada pelaut untuk berenang hingga menemukan daratan atau hingga datang pertolongan sehingga ia dapat kembali melanjutkan kehidupan. Gambaran diatas sama halnya seperti seorang anak yang tetap dapat melanjutkan kehidupannya meskipun ia terpaksa harus mendapati keluarganya yang hancur dan bahkan tak terselamatkan hingga perpisahan orang tua dianggap sebagai solusi terbaiknya.

Tentu tidak ada yang memungkiri bahwasanya pertengkaran dan bahkan perpisahan orang tua merupakan sebuah mimpi buruk yang membawa berbagai efek negatif terhadap anak. Tertekan, shock, malu, terpukul, putus asa, kehilangan, perasaan tidak berharga, terabaikan, dan beraneka ragam perasaan dan pikiran negatif tentu akan seketika menguasai diri mereka. Sehingga tidak heran jika kemudian mereka mencari pelarian dan pelampiasan dengan hal-hal dan perilaku yang tidak baik.

Dan nyatanya memang sangat jarang seseorang mencoba memandang problematika keluarga dan perceraian orang tua dari sudut pandang yang lebh positif dan konstruktif. Ini tentulah bukan berarti adanya indikasi dukungan terhadap perceraian atau membenarkan adanya pertengkaran orang tua secara terus menerus di depan anak-anakanya. Meskipun tidak dilarang, namun bagaimanapun Allah SWT sangat membenci sebuah perceraian. Dalam ajaran Islam perkara cerai ini pun dipandang dengan hati-hati dan bijaksana. Dimana jika memang sebuah ikatan suami istri justru banyak mudzaratnya dan bahkan membahayakan pihak-pihak di dalamnya, maka diperbolehkan untuk memutuskan ikatan atau bercerai.

Ketika perceraian adalah solusi terbaik dari yang terburuk, maka anak sebagai korban harus mampu dikuatkan agar mampu menerima kondisi meskipun teramat sulit. Karena jika penerimaan itu sudah mampu ditanamkan maka sesungguhnya akan bayak hal yang mampu disadari olehnya. Dari kondisi keluarga yang broken home dia akan belajar lebih mengenai konsep keikhlasan dan menerima kehilangan, karena bagaimanapun dia akan mendapati kehidupan atau berbagai kondisi yang tidak sama dengan teman-temannya. Dia juga dapat memahami betul makna kesabaran dan kemandirian. Kekuatan hati yang tertempa dalam kondisi keluarga yang tidak harmonis juga akan melatih mereka untuk lebih tanan uji, tidak mudah terpatahkan dan berputus asa dalam memperjuangkan mimpi-mimpi mereka.

Sesungguhnya Allah SWT menjadikan ketidakharmonisan dalam keluarga dan mengizinkan perpisahan orang tua terjadi karena Dia lebih menyayangi anak-anak ini dari anka-anak lain. Mereka diberikan kesempatan untuk mempelajari kehidupan dengan cara yang spesial. Allah SWT tentu tidak akan pernah menghendaki segala sesuatu terjadi kecuali ada hikmah yang dapat diambil sebagai pembelajaran hidup manusia. Sebagaimana Allah SWT tidak akan bernah memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya. Dan yakinlah bahwa pertolongan Allah teramat dekat. Hanya lautan dengan ombak dahsyat, gekombang besar dan badai yang mematikan lah yang mampu membentuk seorang pelaut yang hebat dan tangguh. Dan merekalah pelaut-pelut tangguh yang sap mewujugdkan minpi-mimpi dan meraih kesuksesan tanpa ada pandangan diskriminatif dengan anak-anak lain dengan keluarga yang sempurna.

Penjajahan Negeri Sendiri; Menjamurnya Sinetron “Sampah” di Negeri Ini

Tak dapat dipungkiri, di era saat ini ketika membahas mengenai tayangan televisi di Indonesia maka tak luput dari bayangan adalah sinetron. Sebuah tayangan drama yang disiarakan di televisi. Sinetron sendiri merupakan sebuah tayangan televisi yang pada awalnya memang bagus dan tidak menuai masalah apapun. Sebut saja misalnya keberadaan sinetron Kiamat Sudah Dekat, Si Doel Anak Sekolahan, Keluarga Cemara, yang memang diminati pemirsa dan yang lebih penting lagi adalah mampu membawa nilai-nilai positif dalam kehidupan masyarakat sehari-hari. Namun entah bagaimana awalnya, pertelevisian Indonesia mendadak seakan manjadi latah dan diserbu dengan berbagai macam sinetron yang ditayangkan setiap harinya. Tidak menjadi masalah ketika sinetron-sinetron tersebut tetap mampu menyajikan nilai-nilai positif kepada pemirsanya, namun nampaknya sebaliknyalah yang terjadi.

Entah mengapa, saat ini sebagian besar orang yang menganggap dirinya intelek atau berpikiran maju, tidak katrok, dan apalah sejenisnya, selalu alergi atau berpura-pura alergi ketika mendengar kata sinetron. Hal ini tentu dapat memberikan gambaran bagaiman citra sinetron saat ini bisa dikatakan sangat buruk dikalangan orang-orang terdidik. Mengapa dikatakan di kalangan terdidik, bukan apa-apa, tapi memang dilingkungan ini lah kemudian muncul berbagai kritikan dan kesadaran bagaimana kualitas sinetron Indonesia yang mengecewakan, sehingga secara tidak sadar seakan terbentuk sebuah kesepakatan umum bahwa sinetron indonesia merupakan sebuah karya yang penuh dengan cela dan bukanlah sebuah tayangan yang layak untuk ditonton khalayak, atau dengan bahasa yanga agak menyakitkan yaitu sampah.

Sering sekali dijumpai seorang siswa ataupun mahasiswa yang malu dan enggan mengakui bahwa dirinya sering menonton sinetron. Kalau tiba-tiba saja keceplosan atau tidak sengaja mengungkapkan suatu hal berkenaan dengan sebuah sinetron lalu ditimpali dengan kata-kata “lhoh kog kamu tahu, sering nonton ya?”. Pasti dengan secepat kilat akan berdalih “emm…enggak, orang rumah tuh yang sering nonton, jadi ya sekilas aku tahu lah” ataupun alasan-alasan lain yang bisa menyangkal bahwa mereka sering menonton sinetron juga.

Sudah menjadi fitrah manusia bahwa seseorang akan malu jika dikaitkan dengan sesuatu yang dianggap buruk. Oleh karena itu, dapat ditangkap bahwa sebenarnya citra buruk sinetron dikalangan dunia pendidikan, utamanya kaum muda sudah sangat memprihatinkan. Sampai seseorang yang menontonnya menganggap itu sebuah aib dan memalukan jika sampai orang lain mengetahuinya. Terlepas apakah itu realita atau hanya berpura-pura.

Namun sayangnya kesadaran semacam itu belum mampu dibangun secara lebih luas. Seperti diungkapkan di atas, bahwa memang baru kalangan yang katakanlah berpendidikan yang mampu melihat dan merisaukan hal tersebut. Sedangkan masyarakat Indonesia secara lebih luas masih sangat menggemari sinetron-sinetron di televisi. Mulai dari orang tua, remaja hingga anak-anak, apalagi bagi mereka yang berlatar belakang pendidikan yang cukup rendah dan kondisi ekonomi menengah ke bawah. Namun hal tersebut tidak mutlak, karena tidak jarang pula orang-orang yang berpendidikan tinggi dan dan kelas ekonomi ataspun menggemari sinetron. Namun kuantitasnya mungkin lebih kecil.

Melihat kondisi bahwasanya tayangan yang ingin ditonton masyarakat  justru sesuatu yang berada di luar keseharian mereka. Sesuatu yang berada di awang-awang, terbenam dalam kesilauan khayal yang membebaskan dari kondisi tertekan berbagai persoalan hidup sehari-hari, terutama kondisi ekonomi yang tidak kunjung membaik di tengah lilitan tuntutan kebutuhan hidup terus yang mencekik. Logika sederhananya, kehadiran sinetron penjual mimpilah yang bisa menjadi obat sementara untuk melupakan rasa muak atas kondisi kehidupan yang morat-marit. Sehingga lagi-lagi tidak heran jika sebagain besar penggemar setia sinetron adalah segmen masyarakat kelas menengah ke bawah yang ingin menghibur diri dari berbagai persoalan dan keterbatasan hidup yang mereka hadapi.

Sebagaimana yang dapat diamati secara nyata bahwa serbuan sinetron di hampir semua stasiun televisi swasta Indonesia saat ini tidak beranjak dari tayangan yang menjual mimpi, konflik, kekerasan, mistik, skandal, selingkuh, rebutan harta, kekuasaan, termasuk rebutan pacar. Tokoh-tokoh yang cantik dan tampan selalu muncul dengan rumah mewah, mobil bagus, baju berganti-ganti, dan segala sesuatu yang serba “glamor”, mencitrakan gaya hidup hedonis, khas kaum kelas atas (borjuis). Belum lagi, kekerasan—dengan segala bentuk dan cara—ditempuh untuk mencapai tujuan. Sikap-sikap keseharian yang ditampilkan juga jauh dari kewajaran.

Tak ketinggalan, potret anak kecil yang ditampilkan punya sifat dendam berlebihan—tidak masuk akal untuk anak seusianya— dengan melakukan siksaan atau makian kepada orang lain yang dianggap musuh bahkan akhir-akhir ini banyak anak-anak dalam sinetron yang sudah dijebak dalam adegan percintaan dan pacaran, dimana seharusnya mereka belum mengenal hal tersebut. Sinetron-sinetron remaja yang berlatar sekolah dan kampus pun sama sekali tidak bernuansa akademis karena yang ditampilkan juga hanya urusan pacaran, percintaan naif, kehidupan malam, transaksi narkoba, penunjukan kekuatan super, kehidupan dugem, pakaian-pakaian seksi, dan remeh temeh banalitas kehidupan lainnya.

Berbagai kekurangan atau keburukan sinetron yang bayak ditayangkan saat ini pun seakan sudah menjadi hal yang wajar. Sebut saja engekoran, jiplakan, episode yang dipanjang-panjangkan, sekuel yang dipaksakan berlanjut, skenario monoton, adopsi mentah dari luar, semua seakan tidak menjadi masalah yang berarti. Belum lagi sekarang sinetron banyak yang hanya menjual wajah tampan/cantik, berkedok religius, meski sebenarnya mengarah pada kesyirikan, memaksakan lagu hits menjadi tema/daya tarik sinetron sinetron, banyaknya hal-hal klise ditampilkan, jam tayang yang cenderung seragam, menampilkan unsur SARA

Lagi-lagi kesadaran sebesar apapun dari sebagian besar masyarakat indonesia seakan menemui jalan buntu untuk dapat memperbaiki kondisi tersebut. Pasalnya seakan sudah terjalin sebuah lingkaran setan yang teramat sulit diputus antara selera masyarakat, rating dan sponsor. Ketika sinetron masih menjadi primadona yang memiliki penggemar tinggi, maka stasiun TV pun masih akan terus berlomba-lomba menayangkannya. Dengan begitu pemirsa setia dapat dijaring dan meningkatkan rating. Inilah sebagai modal utama untuk menarik para pengiklan yang mendatangkan dana yang besar untuk meneruskan kehidupan. Nyatanya dilema yang begitu pelik antara perut dan intelektualitas sama sekali bukan perihal yang sederhana. Para pekerja TV dan penggarap sinetron nyatanya harus bisa mengikuti selera masyarakat agar merekapun dapat terus menyambung kehidupannya dengan layak.

Kalau sudah semacam ini, ya mau di kata apalagi. Media massa dalam hal ini televisi dan tayangan sinetronnya tidak mampu turut menjadi penggerak pembangunan karakter bangsa. Keberadaaannya lagi-lagi hanya bisa disebut sebagai industri hiburan. Sebagaimana layaknya sebuah industri maka orientasi produk yang diciptakan selalu bergantung pada pada konsumsi massa. Proses produksinya senantiasa mempertimbangkan kepentingan material dan hiburan yang pada akhirnya berbahaya karena berdampak serius pada kualitas hidup manusia.

Televisi sebagai media massa yang memiliki kedekatan, bahkan saat ini menjadi sebuah media rujukan bagi sebagian besar masyarakat harus mampu memberikan tayangan-tayagan yang edukatif dan bermanfaat. Jika sinetron dengan berbagai kriteria yang disebutkan diatas masih terus merajai program acara di berbagai stasiun televisi di tanah air, maka buakan tidak mungkin fungsi tevevisi berbalik menjadi sebuah senjata mematikan untuk menghancurkan generasi bangsa ini. Mau jadi apa bangsa ini ke depannya jika remaja dan anak-anaknya saja sudah tercekoki dengan berbagai hal negatif dan irasional dari tayangan sinetron yang setiap hari mereka lihat. Jika saat ini banyak yang sesumbar mengkhawatirkan penjajahan kebudayaan asing, maka nampaknya perlu ditelaah kembali betapa jauh lebih berbahayanya ketika anak bangsa sendirilah yang menggerogoti dan menghancurkan masa depan bangsanya sendiri. Ketika karya-karyanya tidak bisa dipertanggungjawabkan dan membawa efek buruk pada generasi penerus bangsa, apalagi namanya kalau bukan penjajah negeri sendiri.

Disinilah kemudian peran antara masyarakat sendiri, produser, dan pemerintah harus mampu disinergiskan. Kondisi yang sudah terlanjur carut marut semacam ini tentulah akan terasa sangat sulit untuk dibenahahi. Namun setidaknya upaya yang kosisten, tegas dan berkesinambungan setidaknya mampu sedikit demi sedikit mengikis kekacauan yang terjadi. Kekritisan masyarakat dalam menyikapi berbagai tayangan sinetron merupakan hal yang harus dilakukan. Dimana hal tersebut juga harus sejalan dan beriringan dengan tindakan pemerintah untuk secara tegas memberikan batasan dan kriteria ideal dalam tayangan televisi terkhusus sinetron. Sehingga dari pihak produser dan stasiun televisi juga akan berusaha memenuhi apa yang sudah diatur oleh pemerintah secara tegas.

Terbungkam Pasal 27 Ayat 3 Undang-Undang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik

Sebuah aturan hukum tentulah diciptakan dengan maksud dan tujuan yang baik. Disamping untuk menciptakan suasana yang tertib dan kondusif, juga sebagai alat control masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Namun ada kalanya oknum-oknum tertentu menjadikan hukum dan aturan tersebut justru menjadi bahan bulan-bulanan warga masyarakat itu sendiri. Membuat atau menetapkan sebuah peraturan hukum memanglah bukan sebuah hal yang sederhana dan mudah, tingkat kompleksitas yang tinggi harus diimbangi dengan kompetensi sumber daya manusia yang mumpuni pula. Kekurangcermatan dan kurang bijaknya para pembuat peraturan sangat riskan menyulut berbagai protes dan tentangan dari masyarakat.

Ditengah perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat termasuk dalam penggunaan internet seperti sekarang ini, tidak dapat dipungkiri bahwa adanya aturan hukum adalah sebuah keharusan. Dimana aturan tersebut dapat menjadi alat untuk mengadakan kontrol agar penggunaan media teknologi informasi tidak mengganggu kekondusifan dan keamanan masyarakat. Namun ketika tidak jeli, maka bukan tidak mungkin aturan tersebut disalah artikan sebagai bentuk pembatasan atau pengekangan hak berpendapat atau berekspresi dari warga masyarakat. Apalagi di Negara yang menganut demokrasi seperti Indonesia yang sangat erat dengan kebebasan. Sekalipun memang kebebasan yang dimaksud bukanlah bebas sebebas-bebasnya tanpa mengenal batasan, tetap saja bentuk pemabatasan semacam itu akan menimbulakan prasangka tersendiri bagi masyarakat.

Inilah yang terjadi dengan pasal 27 ayat 3 undang-undang no. 11 tahun 2008 tentang informasi dan transaksi elektronik (UU ITE) yang mengundang kecaman dan aksi protes dari berbagai pihak utamanya insan pers dan blogger di Indonesia. Tujuannya sebagai alat kontrol dan antisipasi dampak negatif dalam penggunaan teknologi informasi di tengah pesatnya perkembangan internet justru dianggap sebagai sebuah aturan hukum yang janggal dan tidak efektif.  Keambiguan dan subyektifitas yang kental, disinyalir menjadi salah satu penyebabnya, sehingga banyak pihak yang mempertanyakan dan mengajukan yudicial review. Baik dalam proses penetapan hingga penerapannya dalam beberapa kasus, nampaknya pasal yang satu ini tak henti-hentinya memicu kontroversi yang pelik antara pemerintah selaku pembuat kebijakan dan warga masyarakat.

Pasal 23 ayat 7 berbunyi : Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik.  Sedangkan sanksi pelanggaran pasal disebutkan pada Pasal 45 ayat 1 adalah :Setiap Orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (2), ayat (3), atau ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).

Terlepas dari tujuan penetapannya yang baik, terdapat berbagai sudut pandang negatif yang dialamatkan kepada pasal di atas. Pasal dalam Undang-undang ITE pada awalnya didasarkan atas kebutuhan akan Cyber Law di Indonesia berangkat dari mulai banyaknya transaksi-transaksi perdagangan yang terjadi lewat dunia maya. Namun isi UU ITE rasa-rasanya justru semakin membahayakan kebebasan pendapat pengguna online. Dari penempatan pasal ini saja sebenarnya sudah mengundang tanya dan membuat risih. Pasal ini ditempatkan pada term informasi dan transaksi elektronik yang notabene banyak membahas mengenai teknologi informasi berperan penting dalam perdagangan dan pertumbuhan perekonomian nasional untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat.

Belum lagi argumen yang mengungkapkan bahwa pasal ini sebagai spesifikasi atau mempertegas aturan hukum KUHP mengenai penghinaan atau pencemaran nama baik, dalam hal ini melalui media internet. Kalau memang hal tersebut yang diinginkan, seharusnya diadakan amandemen dalam KUHP tersebut, tidak perlu memaksa untuk menyisipkan pasal yang agak rancu dalam Undang-undang informasi dan transaksi elektronik. Adanya tumpang tindih aturan yang semakin menjadikan ketidakefisinan dan carut marut dunia hukum negeri ini.

Pasal ini juga dianggap sebagai pelanggaran atas kebebasan berekspresi dan mengemukakan pendapat. Sebagaimana yang diketahui bahwa internet merupakan bentuk media massa yang luas. Berbeda dengan sifat media massa yang lain seperti Koran maupun televisi. Tidak ada proses editing ataupun filtrasi informasi yang layak dipublikasikan atau dibunag. Siapa saja dapat mengakses informasi  melalui internet dengan sangat mudah. Sehingga informasi yang sudah dikirim tidak bisa dibendung penyebarannya dan sumber infonya pun tidak berdaya mengendalikan distribusi informasi tersebut. Tidak adil jika kemudian pasal ini diberlakukan untuk menghukum sumber informasi yang notabene dia sendiri tidak tahu bagaimana informasi darinya bisa menyebar luas ke seluruh pengguna internet misalnya.

Tentu masih lekat bagaimana warga masyarakat berbondong-bondong memberi dukungan dan pembelaan terhadap Ibu Prita Mulyasari yang saat itu terbelit kasus persis seperti penjabaran di atas. Dia yang menulis keluhan dan kekecewaan atas pelayanan yang diberikan OMNI Internasional Hospital Alam Sutera Tangerang lantas dikirim melalui email pada beberapa teman terdekat dengan maksud untuk berbagi agar teman-temannya tidak mengalami hal serupa. Tanpa disangka-sangka email tadi dengan cepat menyebar ke berbagai penjuru. Hingga akhirnya pihak OMNI melaporkan Ibu Prita Mulyasari ke pihak berwajib dengan tuduhan pencemaran nama baik dan dikenakan pasal 27 ayat 3.

Ketidakadilan sepertinya dirasakan bukan hanya Ibu Prita dan teman-teman namun seluruh masyarakat Indonesia pun turut merasakannya. Terbukti dari berbagai bentuk dukungan dan pembelaan yang diberikan. Bahkan dalam rangka memenuhi denda sebesar Rp 1 miliar sabagaimana yang ditentukan dalam undang-undang tersebut, muncul gerakan koin peduli prita. Dimana masyarakat seluruh penjuru negeri beramai-ramai mengumpulkan koin-koin suka rela untuk bisa membebaskan Ibu Prita. Jika dimaknai secara lebih seksama, hal ini sekaligus sebagai sindiran dan bentuk penolakan yang tegas dari masyarakat terhadap penetapan dan penerapan pasal 27 ayat 3 unadang-undang ITE tersebut.

Bagaimanapun pasal karet seperti ini, tentu sangat riskan penerapannya karena kemungkinan untuk disalahgunakan sangat besar. Pasal ini sangat mudah ditarik-tarik untuk diterapkan dalam berbagai kasus. Subyektifitas dan fleksibilitas dalam menginterpretasikannya pada sebuah kasus sangat memungkinkan didasarkan pada kepentingan-kepentingan tertentu baik pribadi ataupun golongan. Aturan semacam ini justru akan menimbulkan ketidakpastian dan kerancuan dalam penegakkan hukum.

Salain kasus Prita yang menghebohkan, masih terdapat banyak kasus berkenaan dengan pasal 27 UU ITE, diantaranya yaitu : Johan Yan, terancam hukuman penjara enam tahun dan denda Rp 1 miliar akibat komentar di Facebook tentang dugaan korupsi Rp 4,7 miliar di Gereja Bethany, Surabaya; Anthon Wahju Pramono, menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Solo akibat mengirim SMS dengan bahasa kasar; Ade Armando, menjadi tersangka karena mempublikasikan tulisan yang mengindikasikan adanya korupsi pada Universitas Indonesia; Benny Handoko, mengirim kicauan di Twitter tentang tuduhan korupsi terhadap mantan Anggota DPR dari Fraksi Partai Keadilan Sejahtera (PKS); Budiman, guru SMP Negeri Ma’rang ini ditahan karena mengkritik Bupati Pangkep Syamsuddin A Hamid melalui Facebook; Denny Indrayana, wakil Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia ini pernah dilaporkan pengacara kawakan OC Kaligis ke Kepolisian Daerah Metro Jaya atas pencemaran nama baik.

            Disamping orang-orang yang menjadi korban penerapan undang-undang ITE yang disebutkan diatas, tidak kalah banyak pihak yang menolak dan menggugat ataupun menuntut yudicial review atas penetapan aturan tersebut. Misalnya permohonan dari para pemohon yang mendalilkan bahwa Pasal 27 ayat (3) UU ITE telah mengabaikan prinsip-prinsip negara hukum, melanggar prinsip-prinsip kedaulatan rakyat, melanggar prinsip lex certa dan kepastian hukum, Pasal 27 ayat (3) UU ITE mempunyai potensi disalahgunakan, melanggar kemerdekaan berekspresi, berpendapat, menyebarkan informasi, dan Pasal 27 ayat (3) mempunyai efek jangka panjang yang menakutkan.

Lalu seorang jurnalis bernama Narliswandi Piliang atau biasa disebut dengan Iwan Piliang menggugat pasal tersebut kepada Mahkamah Konstitusi (MK) yang didukung oleh Masyarakat Telematika (MASTEL) dan Asosisasi Pengusaha Warnet dan Komunitas Telematika (Apwkomitel). Tak hanya itu saja, pada 5 Januari 2009 Edy Cahyono, Nenda Inasa Fadhilah, Amrie Hakim, Perhimpunan Bantuan Hukum dan Hak Asasi Manusia (PBHI), Aliansi Jurnalis Independen (AJI), dan Lembaga Bantuan Hukum Pers (LBH Pers) menggugat pula Pasal 27 ayat 3 UU ITE. Serta berbagai pihak lainnya yang mengadakan penolakan dan gugatan baik secara langsung maupun tidak.

Namun apa mau dikata, UU ITE telah ditetapkan bahkan Majelis Hakim Mahkamah Konstitusi menolak pengujian pasal 27 ayat 3 UU ITE. Tujuan ideal UU ITE sebenarnya sangat baik yaitu  untuk mewujudkan suatu kondisi perilaku masyarakat yang santun, tertib dan teratur dalam menggunakan media elektronik, seperti internet. Namun jika UU ITE ini justru membuat situasi dan kondisi masyarakat internet menjadi resah dan tidak nyaman. Bisa jadi ini merupakan satu indikator bahwa ada yang salah dari UU ITE ini. Sekalipun berbagai gugatan yang dilancarkan ditolak dengan berbagai dalih, namun setidaknya hal tersebut mampu memberikan wacana dan sudut pandang yang berbeda kepada pemerintah, khususnya mahkamah konstitusi dalam menyikapi peraturan hokum tersebut.

Keteguhan pemerintah untuk tetap mempertahankan peraturan ini harus dibarengi dengan komitmen yang kuat agar keberjalanannya tidak semata-mata menjadi jalan dan senjata bagi bagi pihak-pihak dengan kepentingan tertentu. Esensi yang sejak awal dibangun dalam menetapkan pasal 27 ayat 3 harus benar-benar direalisasikan. Jangan sampai bermunculan lebih banyak lagi korban-korban undang-undang (undang-undang kog memakan korban, inilah Indonesiaku). Meskipun terkesan ada pembatasan, namun tidak tepat jika peraturan ini kemudian menjadi penghambat dalam penguasaan kecanggihan teknologi informasi yang kemudian akan berdampak pada kemajuan di berbagai bidang kehidupan.

Jadi kesimpulannya, selama kita masih merasa miskin untuk merelakan uang Rp 1 miliar dan merasa tidak punya waktu luang untuk bersantai-santai dalam bui hanya gara-gara adanya indikasi penghinaan atau pencemaran nama baik, maka berhati-hati adalah satu-satunya jalan meskipun memang bukan satu-satunya solusi.

DARTAR PUSTAKA

 

  1. http://pienasthy.wordpress.com/2010/01/16/kontroversi-uu-ite/ , diunduh pada Selasa/ 15 Oktober 2013 pukul 8.53 WIB.
  2. http://www.binushacker.net/polemik-dan-kontroversi-uu-ite.html , diunduh pada Selasa/ 15 Oktober 2013 pukul 08.56 WIB.
  3. https://www.facebook.com/Koran.Fesbuk/posts/10151957454652491 , diunduh pada Selasa 15 Oktober 2013, pukul 08.59 WIB.
  4. http://samardi.wordpress.com/2010/10/30/pasal-27-ayat-3-undang-undang-no-11-tahun-2008-tentang-informasi-dan-transaksi-elektronik/ , Diunduh pada Selasa, 15 Oktober 2013, pukul 18.41 WIB.
  5. http://tubiwityu.typepad.com/blog/2009/12/bunyi-pasal-27-ayat-3-adalah-sebagai-berikut—setiap-orang-dengan-sengaja-dan-tanpa-hak-mendistribusikan-danatau-mentransm.html , Diunduh pada selasa, 15 Oktober 2013, pukul 18.45 WIB.
  6. http://blog.kenz.or.id/2009/06/05/pasal-27-ayat-3-uu-ite-orang-miskin-dilarang-mengkritik-di-internet.htmlDiunduh pada Selasa, 15 Oktober 2013, pukul 18.48 WIB.

belajar bikin naskah iklan radio (amatir)

IKLAN LAYANAN MASYARAKAT “MOMENTUM 85 TAHUN SUMPAH PEMUDA”

Alokasi waktu 135 detik

è Detik 0-5

# Suara gaduh dan keramaian orang

è Detik 6-45

A : Hey mau kemana, kog enggak kuliah?

B : Hari gini kuliah???? enggak gahuul banget sih luu….

 Hahahahaa  (suara gelak tawa mengejek dari beberapa orang temannya)

Temen B 1 : Yuk ikut kita aja ke mall, nonton, makan, belanja, seneng-seneng deh pokoknya

Temen B 2 : Yo’i broo…. Ayuk hura-hura.. anak muda gitu loh…

# Sound effect : toweng.oweng.oweng…. (payah)

A : Nah, ini nih anak muda yang ngancurin masa depan bangsa, anak muda kog cuma hura-hura!

# Sound effect : wanita berteriak histeris dan oh no!!!

è Detik 46-55

# Back sound instrument lagu Tanah Airku  ciptaan Ibu Sud (IN-UP-DOWN-UNDER)

è Detik 56-70

B : Tidak ingatkah kalian wahai pemuda… (ditujukan kepada semua pendengar)

# Back sound ledakan2 peperangan (IN-UP-DOWN-OUT)

è Detik 70-80

# Alunan Sumpah pemuda (IN-UP-DOWN-UNDER)

è Detik 81-90

Suara lelaki muda yang tenang dan berwibawa : Sejarah membuktikan pemudalah penggerak

perubahan

Jalan ini memang panjang dan melelahkan

Namun engkaulah tumpuan harapan

è Detik 91-100

# Alunan suara bung karno “Beri aku sepuluh pemuda maka aku akan mengguncang dunia”

è Detik 101-105

Suara lelaki muda yang tenang dan berwibawa : Harapan ada di tangan anak muda yang peduli

nasib bangsanya

Merajut impian, menggapai kemenangan

è Detik 106-115

# Lagu Bangun Pemudi Pemuda (IN-UP-DOWN-UNDER)

è Detik 115- 135

Suara lelaki muda yang tenang dan berwibawa : MOMENTUM 85 TAHUN SUMPAH

PEMUDA 28 OKTOBER 2013

Perjuangan harus terus dilanjutkan

Dengan tantangan yang berbeda namun tujuan yang sama

Pemuda tak hanya bicara

Pemuda adalah mereka yang berkarya

Suara banyak pemuda bersama-sama : BANGKITLAH PEMUDA! JAYALAH INDONESIA!!!!

Gejala perubahan nilai estetika di Indonesia; Faktor-faktor Penyebabkan Perubahan Nilai Estetika di Indonesia

 Adanya perubahan pola pikir.

Adanya perkembangan peradaban dan kemajuan jaman menjadikan kebudayaanpun berubah. Dengan adanya berbagai perubahan tata kebudayaan dalam kehidupan manusia, tentulah akan merubah pola berpikir dan daya nalar induvidu maupun kelompok, dan begitupun sebaliknya. Sebagai makhluk dengan kemampuan penyesuaian diri yang tinggi, manusia pada akhirnya mau tidak mau harus mampu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan segala perubahan yang pasti akan terjadi. Dalam proses adaptasi itulah manusia dituntut untuk mengggunakan akal pikirannya dalam mewujudkan usaha-usaha penyelarasan untuk dapat mempertahankan kehidupannya. Perubahan demi perubahan yang terjadi secara otomatis akan memunculkan rangkaian proses yang dapat mengubah cara berpikir manusia.

Sebagai contoh nyata dapat di lihat ketika masyarakat Indonesia belum tersentuh oleh model pendidikan barat dan masih syarat akan pemikiran tradisional. Dimana pemikiran yang sangat bertentangan antara rasional dan irasional tersebut melalui sebuah proses, hinggga kemudian memasuki sebuah masa dialog. Penyesuaian dan perpaduanpun terjadi, dengan adanya pengaruh yang begitu kuat dari model pendidikan barat tersebut pada akhirnya pola pikir masyarakat pun mengalami pergeseran dan berubahan secara bertahap. Sekalipun tetap tidak meninggalkan serta merta pemikiran tradisional yang memang sudah menjadi sebuah kepercayaan yang mendarah daging dalam diri masyarakat Indonesia. Pandangan estetika yang awalnya hanya terpaku pada lingkup kesakralan kebudayaan dan adat, pada akhirnyapun mengalami pergeseran melalui adanya pengaruh dan perpaduan dengan pandangan estetika yang lebih modern dan luas cakupannya. Sebagai bukti adalah pada kenyataannya saat ini lebih banyak ditemukan berbagai karya seni yang bersifat perpaduan serta pengembangan dan bukan sebagai temuan baru.

Penggunaan teknologi yang lebih maju.

Tidak dapat dipungkiri bahwa semakin hari tuntutan akan efisiensi dan efektivitas dalam berbagai aktivitas manusia seakan menjadi sebuah keharusan. Penggunaan berbagai teknologi yang maju dan canggih pun samakin tidak dapat dihindarkan dari seluruh lini kehidupan masyarakat. Hal tersebut tentulah memberikan pengaruh yang tidak sedikit dalam pergeseran akan nilai-nilai kehidupan yang berlaku dalam masyarakat itu sendiri. Segala sesuatu yang pada dasarnya menjadi sebuah wahana solidaritas dan kebersamaan hidup, mau tidak mau akan berbelok orientasinya pada materi. Hal ini semakin nampak jelas jika diamati melalui adanya pola hubungan masyarakat yang sudah sangat berubah, adat istiadat yang semakin longgar kebaradaannya, persepsi terhadap waktu pun telah berubah. Hingga pada akhirnya segala nilai norma sebagai karakteristik dari sebuah masyarakat pun berubah dan mengalami pergeseran dengan adanya sebuah tatanan kehidupan modern dalam penggunaan teknologi yang maju dan cangggih tersebut.

Adanya perubahan cita rasa masyarakat.

Dengan kemajuan zaman yang begitu pesatnya dan dibarengi dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan, pada akhirnya menyebabkan peningkatan taraf kehidupan sebagian besar masyarakat Indonesia menuju sebuah tatanan yang lebih tingggi. Hal tersebut, bagaimanapun tentu akan membawa pada sebuah keadaan dimana terjadi perubahan dalam pandangan dan ekspektasi masyarakat akan barbagai macam kebutuhan hidupnya. Keberadaan kelas-kelas social baru atas taraf hidup yang tinggi tersebut akan menimbulkan perubahan pada citarasa atau selera masyarakat terhadap nilai-nilai estetika terhadap aneka kebutuhan sehari-hari. Apalagi dengan adanya kemudahan akses informasi yang ada, maka perubahan tersebut akan semakin cepat.

Karena adanya tuntutan konsumsi dan citarasa masyarakat yang meningkat, maka pergeseran nilai estetika pun akan segera mengimbanginya. Bahkan apabila percepatan tersebut tidak mampu diimbangi dengan perubahan nilai estetika yang ada, maka kelas-kelas social tersebut akan menciptakan berbagai nilai yang dapat memenuhi citarasa dan selera mereka dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya. Sehingga akan muncul sebuah perubahan drastis terhadap nilai estetika masyarakat sesuai dengan yang di kehendaki untuk meningkatkan status socialnya. Hal itu dapat berlangsung cepat, sehingga dalam tempo yang singkat saja akan muncul berbagai karya dengan nilai estetika baru yang beragam. Dimana sebagai salah satu contoh dapat diwujudkan dalam berbagai karya desain misalnya rumah, perabotan, kendaraan, dan barang-barang keseharian dengan berbagai macam kualitas yang disesuaikan dengan tingkat daya beli dan jangkauan masyarakat itu sendiri.

Munculnya gerakan perubahan dalam seni.

Salah satu faktor yang terpenting dalam perubahan nilai estetika di Indonesia adalah adanya ungkapan dan pemikiran estetika pembaharuan. Dimana para seniman ataupun masyarakat pada umumnya memiliki sebuah gagasan maupun bentuk pemikiran yang baru terhadap sebuah nilai estetika yang ada. Tidak dapat dipungkiri bahwa adanya pengaruh dari dunia luar menjadi salah satu penyebab adanya pemikiran dan pandangan baru atas nilai-nilai estetika yang sebelumnya dianut masyarakat Indonesia. Keberadaan bangsa Belanda yang menduduki bumi Indonesia dimasa lalu, memiliki pengaruh yang besar melalui ungkapan estetika yang mereka pahami. Dari sanalah awal terjadinya pergeseran nilai estetik di Indonesia, yaitu dari nilai estetik Hindu-Jawa-Islam ke arah suatu penerimaan nilai estetik modern. Hal tersebut secara sekilas dapat diamati dari adanya sebuah upaya penyederhanaan dan kritikan sebagai cerminan kegiatan kesenian modern, disamping juga berupaya mencari sebuah bentuk yang tepat sebagai perpaduan ungkapan estetik tradisional dan pengaruh modern yang ada.

Berperannya ideologi politik.

Bagaimanapun keberadaan sebuah kekuasaan politik, akan sangat berpengaruh terhadap keberadaan dan perkembangan nilai-nilai estetika dalam masyarakat Indonesia. Wewenang yang dimiliki para penguasa mau tidak mau menjadikan ideologi politik sebagai pengaruh yang cukup besar dalam gejala pergeseran dan perubahan nilai estetik sebagai salah satu media ekspresi dan aspirasi masyarakat. Ketika sebuah kebijakan politik yang diciptakan mendukung atau dalam artian memberi ruang yang seluas-luasnya untuk perkembangan sebuah nilai estetika, maka pergeseran dan perubahanpun dalam kurun waktu singkat dapat terjadi. Namun tidak dipungkiri juga bahwa kekuasaan politik sebagai salah satu kekuatan terbesar, tentulah tidak menginginkan posisi strategisnya terguncang oleh keberadaan perkembangan nilai estetika yang bertentangan dengan yang dikehendakinya. Sehingga untuk mengantisipasinya, maka para penguasa politik sangat nampak memberikan batasan yang ketat dan cenderung otoriter agar perkembangan dan perubahan nilai estetika tidak menjadi senjata untuk menjatuhkan kekuasaannya.

Sebagai contoh yang sangat nyata adalah ketika masa orde baru, dimana keberadaan nilai estetik yang tidak sejalan dengan kebijakan politik yang ada, maka akan kentara sekali pembatasan yang diberikan. Hal tersebut terbukti dengan berbagai penutupan dan larangan untuk kegiatan-kegiatan kesenian yang mengkritik pemerintah, seperti penutupan pameran seni ‘Marsinah’ dan pencekalan pembacaan puisi-puisi W.S. Rendra. Diciptakan berbagai peraturan tentang perizinan pergelaran kesenian, adanya badan sensor film, surat izin penerbitan, dan baerbagai macam kegiatan lainnya yang pada intinya adalah bersifat mengontrol. Apabila nilai estetik yang terkandung dalam berbagai karya seni tersebut bertentangan ataupun tidak sejalan dengan kebijakan pemerintah, maka mudah saja bagi mereka untuk melakukan penutupan dan pelarangan.

Dibukanya pendidikan seni berbasis modernisasi.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dunia pendidikan seni merupakan sebuah tolak ukur dari perkembangan dan perubahan nilai estetika yang terjadi. Bagaimanapun pendidikan merupakan sebuah wadah dimana terjadi pembentukan karakter dan penanaman nilai-nilai pada peserta didiknya. Sehingga seperti apa model dari nilai-nilai yang diajarkan maka sedikit banyak nilai semacam itulah yang terbentuk pada diri anak-anak didikannya. Begitupun dengan nilai estetika yang ditanamkan pada peserta didik. Ketika semakin banyak institusi pendidikan seni berbasis medernisasi yang dibuka, maka semakin banyak pula lulusan-lulusan institusi tersebut yang menganut dan kemudian membawa serta menyabarkan aliran modern yang telah ditanamkan padanya.

Salah satu contohnya adalah pendidikan seni rupa yang dibuka di ITB, dalam proses pembelajaran mahasiswanya, menanamkan metode berpikir modern dan bermuatan nilai-nilai barat. Dengan demikian, secara otomatis akan semakin banyak sarjana-sarjana seni yang menganut faham modern, dan dapat dipastikan ketika semakin mereka mengembangkan sayap di area seni tersebut maka akan semakin besar pula pengaruh yang mereka berikan dalam proses perkembangan dan perubahan nilai estetika di Indonesia. Para alumni tersebut akan menjadi agen perubahan, baik secara langsung dengan menjadi pengajar dan mentransfer faham mereka kepada generasi dibawahnya, ataupun secara tidak langsung melalui berbagai karya yang dihasilkan dimana khalayak dapat menemukan faham modern di dalamnya.

 

Referensi bacaan :

Sachari, Agus, Yan Yan Sunarya, Desain dan Kesenirupaan Indonesia dalam Wacana Transformasi Budaya, Bandung: Penerbit ITB, 2001.

Sebatas Formalitas Belaka (lagi)

“sebatas formalitas belaka” entah kenapa sejak beberapa tahun yang lalu aku begitu mengagumi sepenggal frase ini. emm… mengagumi? entahlah apa namanya. namun yang jelas aku sering menggunakannya untuk mengomentari berbagai fenomena yang ada.seingatku awal mula mengapa aku sering menggunakan frase tersebut adalah ketika aku mulai terusik melihat kondisi disekelilingku baik lokal maupun nasional (aaiiss… gayanya…) marak dengan berbagai hal yang sifatnya memang hanya sebatas formalitas belaka atau tak ku temukan esensi di dalamnya. . bukan bermaksud mengejudge nih, tapi setelah memalui sebuah proses pemikiran dan perenungan yang panjang serta mendalam (aaiiihhh.. sedap….) ku temui berbagai hal yang selama ini dianggap penting, menjadi rutinitas, atau bahkan sakral bagi masyarakat luas, nyatanya hanya realitas yang bersifat formalitas.

mulai dari rutinitas dan aktivitas yang banyak kita lakukan setiap hari. sering kali orang hanya melakukan berbagai kegiatan rutinnya tanpa ia bisa memaknai setiap detik yang terlewatkan. misalnya kerja ya yang penting kerja. misalnya sekolah ya yang penting sekolah. misalnya nganggur ya yang penting nganggur. ya pokoknya formalitas aja lah. sama halnya dengan ranah-ranha yang lebih luas, misalnya berbagai hal dalam lingkup kehidupan negeri ini. pendidikan, birokrasi, hukum, politik, dan semua hal yang ada semata-mata tak mengandung makna di dalamnya. semua dilakukan seadanya tanpa memikirkan sebagaimana mestinya.